Ketoprak riwayatmu kini

Ketoprak bagi sebagian besar masyarakat Jawa Tengah dan Jogjakarta mungkin sudah tidak asing lagi. Tapi bagi sebagian lagi yang kebanyakan pemuda dan akan-anak, ketoprak mungkin menjadi hal  asing di telinga mereka. Ketoprak adalah salah satu kesenian tradisional jawa berupa seni peran yang diiringi musik gamelan.

Jaman saya masih SD dulu, ketoprak menjadi salah satu hiburan favorit warga yang sedang mempunyai hajat entah mantu (nikahan) atau acara sunatan. Selain menjadi favorit yang punya hajat (kalau ada hiburannya, biasanya akan banyak tamu yang nyumbang/buwoh), ketoprak juga menjadi hiburan gratis warga sekitar. Saya masih ingat betul, dulu setiap ada yang nanggap ketoprak saya hampir tidak pernah melewatkannya.

Dalam satu hajat, ketoprak biasanya dimainkan dua kali dalam sehari dengan dua cerita berbeda. Jam manggung pertama adalah siang hari biasanya selepas dzuhur yang akan berakhir sore hari sekitar jam lima. Sedangkan pentas kedua biasanya dimulai menjelang tengah malam dan berakhir setelah subuh kira kira jam lima. Dari segi cerita, pentas yang malam hari biasanya dikemas lebih menarik, entah itu dengan dibumbui cerita seram atau menambahkan kisah-kisah yang tengah populer di masyarakat.

Salah satu bagian favorit penonton dalam ketoprak adalah Dagelan. Dagelan adalah satu babak tertentu dimana beberapa (dua, tiga atau lebih) pemain menyuguhkan guyonan atau humor. Dagelan memegang peran penting dalam pementasan ketoprak karena ikut menentukan menarik atau tidaknya jalan sebuah cerita. Karena itu konon dulu honor dagelan bisa lebih tinggi dari para pamain ketoprak yang lain.

Di masa jayanya dulu, ada beberapa grup ketoprak yang mendominasi pentas ketoprak di daerah kami. Salah satu yang masih saya ingat adalah kelompok Ketoprak Pulo yang memang berasal dari desa Pulo kecamatan Randublatung. Bisa dibilang ketoprak Pulo menjadi salah satu ketoprak favorit waktu itu. Selain pemain yang mahir berolah peran, tata busana dan rias wajah yang bagus, ketoprak Pulo juga menggunakan tata panggung yang terbilang lumayan pada waktu itu. Jika kelompok ketoprak lain mementaskan cerita di atas tanah yang dilapisi layar (terpal yang biasa untuk menjemur padi), ketoprak pulo sudah memakai panggung dari papan, ditambah beberapa gambar yang melatari jalannya cerita.

Ketoprak, riwayatmu kini. Seiring berkembangnya tahun dan jaman, ketoprak seperti terlupakan. Pelan namun pasti ketoprak tergusur oleh kesenian lain yang lebih menarik di mata masyarakat. Awalnya ketoprak tergeser oleh kesenian Tayub yang lebih diminati oleh laki-laki dewasa dan dibumbui dengan ‘pesta’ minuman keras. Tapi Tayub sendiri kemudian tergeser oleh Campur Sari dan organ tunggal. Sementara ketoprak, seperti tak terdengar lagi gaungnya di daerah kami. Tak ada lagi celotehan di tengah malam, “Ayo tangi, dagelane wis main kae lo, arep ndelok po ra selak ra oman lho.” (Harr/Randublatung)

  1. Betul sob, minat orang terhadap ketoprak memang sedang terjun bebas… Saya masih ingat, dulu mereka bisa berkeliling dan menyewa gedung pertemuan untuk pementasan ketoprak selama 2-3 bulan, dan mereka bisa hidup dari berkesenian itu.
    Hmmmm, ingat Randublatung jadi ingat istilah “amplyak-ampyak randublatung”.. hehe..

    Nice post bro, sukses..!!

  2. tidak hanya dialami ketoprak
    semua kesenian dan budaya asli Indonesia sedang dalam masa kritis
    apalagi yang muda2 menganggapnya sebagai sesuatu yang kuno
    dan tentu saja mereka akan meninggalkanya

    budaya…..
    dilestarikan ato dimusiumkan….???????

    • samin gimbal
    • September 24th, 2010

    cerita / lakon Kethoprak merupakan gambaran kehidupan manusia yg bisa dijadikan suri tauladan dalam kehidupan, namun apabila kita saat ini kembali kerandublatung melihat hiburan campursari maupun tayub, alangkah sedihnya melihat kelakuan2 pemuda ( mabuk2an, ribut berantem, sok jagoan), sy adlh putra daerah randublatung,…cobalah para pemuda keluar dari daerah,…merantaulah, mengadulah nasib,..krn kalian akan lebih maju diluar sana

    • DWI NARTO
    • Juli 19th, 2016

    Nguri uri kabudayan jowo sopo meneh nek orawong jowo dewe.wong jowo ojo ilang jawane. He he… wong jowo…

  1. Desember 6th, 2011
    Trackback from : revitol acnezine
  2. Februari 8th, 2012
  3. Februari 13th, 2012
    Trackback from : Sydney Pressure Washing

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: