Bicycle = Obahe Sikil?

KOMPAS.com – Di tengah kontroversi sejarah asal penemuan sepeda, sebagian ontelis di Indonesia – julukan bagi penggemar sepeda ontel – memiliki versi sendiri, yaitu sepeda berasal dari bahasa Jawa. Kok, bisa?

”Kalau tidak percaya, bisa dirunut dari asal kata bahasa Inggris bicycle yang diambil dari kata bahasa Jawa obahe sikil (kayuhan kaki),” kata Iswartono, penggila sepeda onthel dari Bogor yang asli Solo, sambil senyum-senyum.

Teori ini memang lebih untuk guyonan sesama ontelis, jelas tak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Tetapi, jauh di balik lelucon itu sebenarnya adalah semangat ontelis ini untuk membumikan sepeda ke dalam budaya mereka melalui idiom lokal.

Bagaimanapun, sepeda sudah terinternalisasi secara panjang di Nusantara. Bahkan, Hindia Belanda (baca: Indonesia) menjadi salah satu wilayah di dunia yang termasuk pertama kali menggunakan teknologi sepeda saat baru ditemukan.

Hal ini dibuktikan dengan tumbuh suburnya toko-toko sepeda di Hindia Belanda tak lama sejak ditemukannya moda transportasi ini. Dokumen berupa iklan di media cetak pada 1950 tentang Toko Sepeda N.V Handel-Maatschappij ”Lim Tjoei Keng” menyebutkan bahwa toko tersebut sudah berdiri sejak 100 tahun sebelumnya, atau berarti tahun 1851. Iklan ini juga menerangkan toko tersebut memiliki cabang di ”antero Java” seperti Batavia (Jakarta), Bandoeng (Bandung), Cheribon (Cirebon), Pekalongan, Tegal, Solo, Djogja (Yogyakarta), Semarang, dan Soerabaia (Surabaya).

Pengajar sosiologi yang juga peneliti senior di Pusat Studi Pariwisata Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Hendrie Adjie Kusworo, mengatakan, sepeda dibawa masuk ke Indonesia oleh kolonial Belanda. Sebagai teknologi baru, sepeda segera saja menjadi primadona bagi priyayi pribumi, kolonial Belanda, serta kaum elite pedagang.

Popularitas sepeda di Tanah Air itu juga dibuktikan dengan beredarnya katalog sepeda berbahasa Melayu, selain bahasa Inggris dan Belanda, yang memuat berbagai jenis onderdil sepeda pada tahun-tahun tersebut. Katalog itu diterbitkan oleh N.V Handel en Industrie-Mij.V/h M. Adler, Prinsengracht 581/583, Amsterdam, pada April 1914 dan pernah dipamerkan di Bentara Budaya Yogyakarta pada 2006. Katalog ini menjadi referensi penting para penggila sepeda tua hingga saat ini. (Sumber : www.kompas.com)

  1. ada2 saja
    tapi tampaknya memang gatuk tur matuk

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: