Janji Politik, Menunggu Realisasi

checkmate

Pesta Pemilu 2009 semakin dekat, bermacam kampanye baik yang terselubung maupun yang terang – terangan sudah mulai banyak dilakukan. Yang paling sering kita lihat ( Mungkin sebenarnya terpaksa kita lihat ) adalah yang tayang di media televisi. Ada yang beriklan dengan kedok organisasi tertentu, ada yang terang – terangan membawa nama Partai tertentu, ada juga yang beriklan untuk dirinya sendiri.

Seperti beberapa waktu lalu ada iklan Soetrisno Bachir, juga ada Prabowo Subiyanto yang iklannya terasa lebih sering sekarang ini, ada juga Wiranto, lalu ikut – ikutan juga Rizal Malarangeng, baru baru ini juga ada mantan presiden Megawati, dan terbaru presiden saat ini SBY juga ternyata nggak mau ketinggalan ikut memasang iklan di televisi.

Megawati dalam iklannya bahkan menjanjikan sembako murah bagi rakyat Indonesia. Megawati bahkan menyerukan kepada semua kader PDIP untuk menjadikan ‘Sembako Murah’ sebagai isu utama dalam setiap kampanye PDIP di daerah. Menebar janji memang mudah tapi melaksanakannya belum tentu. Bisa saja mereka menawarkan janji janji setinggi langit, tapi setelah terpilih nanti apa iya mereka masih mengingatnya. Dunia politik, kata orang bisa merubah orang yang bersih menjadi kotor , pun bisa merubah orang yang kotor menjadi nampak bersih.

Suatu Pemerintahan tidak hanya terdiri dari orang orang dari satu golongan dan satu kepentingan. Ada yang satu aliran dengan penguasa, ada juga yang berseberangan dengan yang berkuasa. Beragam janji ketika kampanye, tidak akan mudah merealisasikannya ketika seseorang benar benar berkuasa kelak. Ada pihak yang akan meolak kebijakan, ada pihak yang akan menjegal langkah sang penguasa, ada pihak yang akan merongrong kekuasaan sang penguasa.

Mungkin sekarang ini yang kita perlukan adalah penegakan hukum di segala bidang, di segala golongan, di segala tingkatan masyarakat. Saat ini kita mempunyai banyak sekali peraturan baik yang berupa undang – undang maupun peraturan daerah namun tidak ditegakkan secara optimal. Bagaimana mau ditegakkan, para penegak hukum sendiri sering melanggar peraturan itu. Soal korupsi misalnya, ada Komisi Pemberantas Korupsi ( KPK ) yang bertugas memberantas korupsi para pejabat, namun ada juga pejabat di KPK yang terlibat Korupsi. Di lembaga pengadilan juga sering kita dengar praktek suap menyuap yang dilakukan baik oleh Jaksa maupun Hakimnya. Bahkan di lembaga legistatif yang notabene bertugas membuat undang undang juga sering sekali kita dengar adanya praktek Korupsi dan suap. Jadi bagaimana mau maju negeri ini kalau praktek hitam para pejabat pemerintahan masih berjalan. Alih alih memajukan negeri, menjadi pejabat saja korupsi. Apa kata dunia…….?

***

    • seno
    • Desember 4th, 2008

    Janji itu hutang (kata para rohaniawan),
    kalau tidak bisa memenuhi lebih baik jangan berjanji, karena akan menghantui seumur hidup.

    Karena janjilah negeri ini terperosok ke dalam lingkaran setan politik uang(money politic), sudah puluhan tahun rakyat negeri ini selalu diberi janji-janji oleh para penguasa dan calon penguasa, baik melalui rapat-rapat, mimbar-mimbar, iklan-iklan di pinggir jalan, media cetak sampai di TV.Tapi selama berpuluh-puluh tahun juga janji itu selalu diingkari.

    Maka tidak aneh ketika hari ini, menjelang pemilu 2009 rakyat indonesia hanya akan memilih kalau diberi uang atau imbalan dari para kandidat Legislatif atau President. Padahal praktek politik uang inilah sumber korupsi di indonesia, setiap calon Legisltatif/president yang telah menghabiskan uang jutaan sampai ratusan miliar pasti setelah terpilih dan berkuasa mereka ini akan berupaya untuk mengembalikan uangnya(balik modal), maka jalan pintas yang ada didepan mata untuk balik modal adalah KORUPSI, yakni mencuri uang rakyat, memanipulasi/mark up anggaran, merekayasa UU untuk bisa merampok uang negara secara legal, menerima suap dari kalangan bisnis atau pejabat lainnya.
    Kalau sudah begini siapa yang rugi, jelas Rakyat lagi. Anggaran Pendidikan, Kesehatan dan pelayanan sosial untuk rakyat semakin kecil, rata-rata Pemda di indonesia proporsi anggaran pendapatan dan belanja daerah(APBD) terdiri untuk kebutuhan Pemda sekitar 60-75 %, sedangkan alokasi untuk rakyatnya hanya 25-30%. sungguh hal yang ironi. Anggaran APBD yang sejatinya untuk kesejahteraan rakyat justru banyak dinikmati para birokrat dan penguasa politik yang korup.
    Tapi saya masih yakin di negeri ini masih banyak Pemilih dan para kandidat yang jujur tulus mengabdi kepada rakyat. Mereka memilih dan dipilih bukan bermodalkan uang jutaan atau bahkan miliaran rupiah.

    Kesadaran berpolitik tanpa uang sebagai awal politik yang sehat. apalagi jika masyarakat secara swadaya mengeluarkan iuran untuk memberi sumbangan pada kandidat legislatif yang dicalonkan. tentunya si calon adalah orang yang betul-betul mengakar dan dipilih untuk dicalonkan menjadi kandidat dari ormas, organisasi rakyat, atau komunitas masyarakat tertentu dan uang yang disumbangkan juga dipertanggungjawabkan kepada publik digunakan untuk apa saja. Maka saya yakin negeri ini akan betul-betul bisa lari untuk mengejar ketertinggalan dengan negeri-negeri tetangga, seperti malaysia, singapura, thailand bahkan vietnam, yang telah beberapa langkah di depan kita. Amien.

    • randublatung
    • Desember 6th, 2008

    Susah jadi orang Indonesia, dikasih miskin pengen kaya, dikasih kaya masih kurang juga, dikasih jabatan disalahgunakan, dikasih kekuasaan diselewengkan, dikasih istri cantik masih nyari yang montok.. wakakakkkk….

    Intinya kepuasan memang tidak ada batasnya, kita sendiri yang bisa mengukur batasan batasan yang pas untuk diri kita sendiri….

  1. Desember 18th, 2011
    Trackback from : Rhonda Eccleston
  2. Maret 9th, 2012
    Trackback from : vanessa minnillo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: