Mahal Air Bersih di Randublatung

Hari – hari belakangan ini mungkin jadi hari menyibukkan di beberapa desa di Randublatung. Datangnya musim kemarau tak urung membuat warga repot mencari sumber air bersih untuk konsumsi sehari – hari.

Sudah terkenal bahwa Blora merupakan salah satu kabupaten di Jawa Tengah yang cukup langka sumber air bersih di musim kemarau. Warga di pedesaan biasanya mengandalkan sumber air yang lazim disebut “Sendang” untuk digunakan beramai – ramai di musim kemarau seperti ini karena beberapa sumur yang biasa dipakai warga biasanya akan kering airnya. Tidak hanya sumur, sungai juga akan begitu adanya.

TAPI….!! kesulitan air bersih biasanya tidak terjadi di desa tempat saya tinggal, Sambongwangan. Berdasarkan pengalaman saya dulu ketika masih tinggal di Sambongwangan, biarpun sedang musim kemarau sumur – sumur warga di desa kami biasanya tidak akan sampai kering. Kalaupun ada mungkin hanya beberapa saja tidak sampai kekeringan seluruh desa. Karenanya banyak warga dari desa lain mengambil air ke desa kami dengan mamakai jerigen.

Tapi untuk bercocok tanam tentu saja warga di Randublatung akan sangat kesulitan. Petani di Randublatung masih mengandalkan air hujan untuk keperluan bertaninya. Pada musim kemarau seperti ini biasanya warga akan menanami sawahnya dengan jagung. Masih mendingan daripada tidak ditanami sama sekali. Lagipula komoditi jagung yang ditanam petani sekarang adalah jenis unggul yang menghasilkan lebih banyak hasil panen.

Kekeringan di wilayah kabupaten Blora tahun ini tampaknya sudah meluas. Saya kutip dari kompas.com: Musim kemarau di Kabupaten Blora semakin terasa dan meluas. Di Desa Cabak, Kecamatan Jiken, sebanyak 10 hektar sawah puso, dan di Desa Gabusan, Kecamatan Jati, ratusan warga kembali kesulitan memperoleh air bersih.
Untung (67), petani Desa Cabak, Jumat (13/6), mengatakan 1,5 hektar sawahnya terancam puso. Separuh dari sawah itu sudah tidak dapat dipanen lagi lantaran kekurangan air.

Sawah puso di Desa Cabak menambah luasan sawah terancam kekeringan di Kabupaten Blora. Berdasarkan data Dinas Pertanian Kabupaten Blora, sekitar 472 hektar sawah di tujuh kecamatan terancam kekeringan. Sebanyak 388 hektar tergolong rusak ringan, 57 hektar rusak sedang, adapun 27 hektar rusak berat.

Di Dusun Sucen dan Gabusan, Desa Gabusan, Kecamatan Jati, ratusan warga yang lima hari lalu mendapat pasokan air bersih dari Pemkab Blora, kembali kekurangan air. Mereka terpaksa mengambil air dari Dusun Ngrejeng, Desa Palem, Keca matan Gabus, Kabupaten Grobogan, yang berjarak sekitar lima kilometer dari Desa Sucen dengan bersepeda.

Ya semoga musim kemarau ini akan segera berakhir, berganti dengan datangnya musim hujan. Biar kekeringan yang terjadi tidak berkepanjangan. Amin.

    • seno
    • September 1st, 2008

    Daerah Blora sebagai daerah yang sebagian besar tanahnya berkapur, setiap tahun di khawatirkan mengalami kekeringan akan air, baik untuk pengairan pertanian atau air untuk konsumsi rakyatnya.

    Namun yang tak habis kita pikir adalah sikap Pemda Blora yang dari tahun ke tahun tak mampu memyelesaikan masalah ini secara mendasar. apa yang sering dilakukan adalah program tambal sulam seperti bantuan air bersih melalui mobil2 air, yang jangkauannya sangat terbatas. sehingga terkesan asal-asalan yang penting telah berbuat.

    Mengapa Pemda Blora tidak meneruskan membangun pompa-pompa air secara terpadu baik untuk pertanian dan air bersih untuk rakyatnya.
    Kemana hasil kekayaan hutan jati dan minyak blora selama ini ? Alokasikan dong anggaran di APBD untuk menyelesaikan krisis air tahunan ini.

    Gimana Pak bupati blora ? harusnya masalah mendasar seperti ini tidak ditangani secara amatiran.

  1. Aslmkum. Wah kelingan jaman susah ngangsu banyu biyen, Mas. Saka kampungku, Bogorejo Tanggel, kudu numpak sepedhah ning tangga desa, Tindhik nggawa jrigen kiwa tengen…. Kapan ya Randubltung isa cukup banyu… Sayang juga alas jatine wis dirusak wong wong sing gak bertanggung jawab. Salam Kanggo wong – wong Randu kabeh…
    Wasalam…

    • randublatung
    • September 19th, 2008

    @ alis muntono: jaman memang wis rubah mas,
    perubahan juga ada konsekwensinya….
    mungkin rusaknya hutan jati kita juga akibat dari “kemajuan jaman” yang salah kaprah…..

    • Joy
    • November 16th, 2008

    Benar mas Seno, sebenarnya masalah sebesar ini tidak di atasi secara amatiran.

    tapi dengan adanya tulisan ini, apakah mereka tahu keluhan masyarakat ini?

    yang jadi pertanyaan besar, bagaimana membuat PEMDA blora agar segera mencari solusi serta mengambil tindakan yang nyata dalam mngatasi hal ini.

    Suatu usul kongrit, mungkin dengan bantuan 50% atau beberapa persen untuk membuat sumur pantek 100-200 dan sebagian masyarakat menanggung sisanya, saya yakin mereka mau.

    SO, kemarin saya dengar-dengar malah ada yang siap bayar sendiri, tapi orang tersebut maunya terima jadi, maksudnya positif keluar airnya/keluar sembernya. jika tidak keluar ya yang jelas mereka tidak mau bayar.

    bagaimana mas, semoga hal ini masuk sampai pada pemda blora.

    SEMANGAT, mari sing-singkan lengan untuk mengejar ketertinggalan daerah kita.

    • BAGOES
    • Desember 31st, 2008

    mas awakmu saiki eng endhi?????
    enek gawean?
    aq wong mboyang pleknggo

    podho wong randu OCE

    aku duwe krentek majuke randu

    nek butuh gambar randu seng anyar tak wenehi………

    salam alas jati

    • supriyanto
    • April 24th, 2010

    Masalah air di rabdublatung khususnya dan blora pada umumnya seharusnya diatasi dengan menyediakan bak – bak penampungan, sehingga air pada musim hujan bisa di tampung, sedangkan pada musim kemarau bisa digunakan untuk kebutuhan sehari – hari. yang saya rasakan adalah belum adanya trobosan yang mendidik masyarakat dari pemerintah yang sifatnya bisa merubah cara berfikir masyarakat. pemerintah cenderung melaksanakan proyek asal – asalan yang tidak merubah keadaan rakyatnya. kalaupun dak bisa memenuhi kebutuhan pokok masyarakatnya minimal ya memberi ilmu pengetahuan biar masyarakat secara swadaya mengusahakannya. di negara palestina yang berupa padang pasir dan berkecamuk perang masyarakatnya tidak kekurangan air di musim kering. jadi perlu kontribusi kita semua untuk mengatasi masalah ini. kita harus awasi pemerintah, biar tidak melaksanakan proyek asal – asalan seperti yang lalu.

    • SUPARNO
    • Mei 21st, 2010

    semogaa dengn minimnya air bersih di randu yg d sebabkan hutan yg gundul membuat sadarnya para penebang jati yg tk bertnggungjawab. semoga semakin majunya perkembangan pendidikan d randu dapat mendorong sdarnya masyrkat untuk memajukan randu dan tak merusak hutan jati. mari kita galakan hutan desa. randu maju terus…….

    • SUPARNO
    • Mei 21st, 2010

    persiapkan kota randublatung tuk hadapi pengelolaan ladang minyak cepu sebagai andil tuk mengejar ketingggalan dari segi perkembangan sarana dan prasarana, ini merupakan harapan yang tak boleh terlewatkkan. maju terus randu kota jati. anak jeruk………………………

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: