KPH Randublatung

KPH Randublatung merupakan salah satu KPH andalan Perhutani Unit I Jawa Tengah karena produksi kayu jatinya yang tinggi. KPH ini dikelilingi oleh empat KPH lain yaitu:
1. Sebelah utara : KPH Blora.
2. Sebelah timur : KPH Cepu.
3. Sebelah selatan : KPH Ngawi (Unit II Jawa Timur).
4. Sebelah barat : KPH Gundih.

Secara administratif, kawasan hutan KPH Randublatung terletak pada wilayah Kabupaten Blora (98,97 %) dan Kabupaten Grobogan (1,03 %).
Luas kawasan hutan KPH Randublatung adalah 32.464,1 hektare yang terbagi dalam dua Sub Kesatuan Pemangkuan Hutan (SKPH) yaitu SKPH Randublatung Utara dan SKPH Randublatung Selatan. Tiap SKPH terdiri dari tiga Bagian Hutan (BH) yang masing-masing memiliki dua Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH). Terdapat 44 Resort Polisi Hutan (RPH) pada KPH ini.

Pembagian wilayah KPH Randublatung
1. BH Doplang luas 5801.50 ha
2. BH Bekutuk luas 4818.50 ha
3. BH Ngliron luas 6235.80 ha
4. Alur 282.20 ha
( SKPH Randublatung Utara 17138.00 ha )
5. BH Randublatung luas 5110.10 ha
6. BH Banyuurip luas 5044.30 ha
7. BH Banglean luas 4885.20 ha
8. Alur 286.50 ha
( SKPH Randublatung Selatan 15326.100 ha )
TOTAL KPH RANDUBLATUNG 32464.10 ha
**Sumber: Perhutani (1992)

Wilayah KPH Randublatung terletak pada ketinggian 10 – 250 meter di atas permukaan laut. Terletak pada daerah aliran sungai Lusi dan Bengawan Solo dengan topografi lapangan bervariasi mulai dari datar, miring, berombak, curam serta bergelombang. Wilayah ini memiliki delapan macam tanah yang menjadi bagian dari lima tipe tanah yang dijumpai. Kelima tipe tanah tersebut adalah aluvial (fisiografi dataran), litosal, regosol dan mediteran (fisiografi bukit lipatan) serta grumusol (fisiografi dataran dan bukit lipatan).

Dengan tujuh bulan basah dan dan lima bulan kering, tipe iklim menurut Scmidt dan Fergusson pada KPH Randublatung adalah tipe C/D (quation index = 71 %) atau tipe C agak lembab (quation index antara 60 – 100 %). Curah hujan relatif banyak jatuh pada bulan Nopember – Maret, paling banyak pada bulan Desember dan Januari. Sedangkan bulan paling kering adalah bulan Agustus, curah hujan relatif sedikit terjadi pada bulan April – Oktober.

Seluas 30.695,79 Hektare atau 94 % dari seluruh luas kawasan hutan merupakan kawasan hutan untuk penghasilan kayu yang hampir semuanya baik untuk perusahaan tebang habis, Perhutani (1992). Kawasan hutan bukan untuk penghasilan kayu jati seluas 913,38 Hektare (3 %) dan kawasan hutan bukan untuk penghasilan termasuk alur 854,93 Hektare (3 %). Dari seluruh sebaran kelas hutan yang merupakan kelas hutan produktif pada tahun 1993 seluas 28.657,13 Hektare atau 88 % dari seluruh luas kawasan.

Dalam wilayah kerja Perhutani Unit I Jawa Tengah, KPH Randublatung mengalami gangguan keamanan terbesar akibat pencurian kayu. Intensitasnya membengkak seiring bergulirnya masa transisi reformasi di Indonesia.

Tingginya angka pencurian ini disebabkan kemiskinan penduduk sekitar akibat kecilnya angka kepemilikan lahan pertanian. Di lain pihak, hampir separoh wilayahnya merupakan kawasan hutan jati yang bernilai tinggi. Kondisi ini diperparah dengan pendapat umum setempat yang memandang hutan sebagai warisan nenek moyang. Pandangan yang telah membudaya ini sangat toleran terhadap pribadi yang melakukan pencurian kayu daripada mengambil barang orang lain.

    • seno
    • Mei 12th, 2008

    Pola pengelolaan hutan yang korup dan cenderung mengedepankan pendekatan militeristik POLHUT(kekerasan) seperti inilah yang sering menimbulkan gejolak sosial di Randublatung dan Blora secara umum.

    Apalagi jika KPH Randublatung tidak mempunyai visi untuk menyejahterakan masyarakat sekitar hutan. Masyarakat sekitar hutan selama ini hanya dijadikan buruh murah atau dieksploitasi tenaganya untuk menggarap tanah2 perhutani dengan pola ( menurut perhutani pola kemitraan) PHBM/LMDH, pola inipun lebih banyak menguntungkan perhutani ketimbang masyarakat sekitar hutan.
    Sedangkan disatu sisi, kebutuhan masyarakat untuk makan sehari-hari semakin berat, begitu juga biaya sekolah dan kesehatan semakin mahal.
    kalau udah begini gimana jal???

    Mana perhatian Pemda?
    Sejak saya duduk dibangku SD sampai lulus SMA tahun 1996, jalan kecamatan pada rusak dibiarkan aja sampai tahun2an, apalagi jalan yang didesa2.

    Seharusnya Rakyat Randublatung bisa mendapatkan lebih dari sekedar perbaikan jalan raya.
    Dengan kekayaan alam yang melimpah seperti Kayu Jati yang tiap tahun mendapat Ecolabelling terus dijual ke Uni Eropa, dan juga puluhan tambang2 minyak yang ada.
    Maka sudah menjadi keniscayaan Pemda Blora untuk memastikan bahwa persoalan Pendidikan, Kesehatan dan Sembako, bukan menjadi persolaan yang mahal lagi.
    see u.

    • janoko
    • Agustus 28th, 2008

    agaknya seno senang maido ya

    • seno
    • November 26th, 2008

    dipaido wae pada budek lan mijek kok mas-mas…opo maneh di enengke wae.. soyo tambah rusak iyo…
    mending maido ! idep-idep ngekeni pencerahan ben sadar…

    • W2n
    • Desember 17th, 2008

    Jika mas2nya klu ndak tau masalah ruang lingkup Managemen Perhutani kususnya KPH Randublatung mendingan cerita yang lain aja ya…?Kritik maupun saran ini kusus buat mas SENO.

    • Dewi Kanestren
    • Maret 11th, 2009

    wah..om Seno pandangannya kok begitu…mbok ya kritiknya diperhalus dikit ngopo?? setahu saya….KPH Randublatung udah cukup kerja keras dlm upaya menyejahterakan masyarakat desa hutan….sulit loh Om ngemong orang banyak (masy)..lha ngemong anak sendiri aja kadang masih gak bener jadinya……..lebih baik positive-thinking dan ikut action…. piye amrihe melu mbangun masyarakate lan bangun deso bareng2 karo Perhutani..
    ben padha marem lan gak main tuding gitu….

  1. wihh mas seno ngomongane ngeri!!!!

    • kaka
    • Juni 8th, 2010

    i love randublatung mugo-mugo tambah maju

    • Prasetyo Iskananta
    • Maret 1st, 2011

    kalo boleh tau harga kayu jati A2 dan A3 panjang 3m berapa ya?thx

    • alexnurhidayat
    • April 21st, 2011

    isane mung maido,upomo nglakuni yo opo godak leh

    • kikis
    • Agustus 16th, 2012

    Woooo alah mas senooooo….. lehmu maido kok gak beralasan, Perhutani itu bukan dinas sosial,( ngerti ) saya jelaskan ya :
    1. Tentang kekerasan yang dilakuan oleh petugas PHT itu demi mempertahankan asset negara , nek bahasane LSM yg suka jualan HAM mempertahankan hidup, karena mereka juga punya HAK untuk menghidupi anak istri, sementara lahan yg dijaganya dijarah orang apa nggak marah ( Misale Bojomu di bedo wong neng ngarepmu piye??? )
    2. Untuk masalah Kesehatan Perhutani telah melakukan sosialisi dengan Instansi terkait yang kadang melakukan bkati sosial thd MDH, Jelase Tugas Kesehatan iki tanggungane DINAS KESEHATAN !!!!
    3. Tentang upaya mensejahterakan masyarakat iku tugase Pemerintah dan tugas tersebut harus dipikul bersama antar instansi , kalo hanya perhutani yang menanggung menurutmu itu sama dengan pemikiran yang sempit alias PEKOK
    4. Saat ini Perhutani telah melakukan PHBM dan memberikan Sharing Prod. thd LMDH , dan uang tsb digunakan untuk membantu Masyarakat desa hutan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi desa masing – masing, jadi tidak ada pasal pembiaran terhadap masyarakat desa hutan.
    5. Ini yang membuat kamu berpikiran buruk barangkali ya, ” jangan – jangan kamu menulis iniu karena ingin mendapatkan uang sharing secara gratisan , namun tidak dikasih .

  2. mohon pak petugas hutan di wilayah RPH ngliron pencurian kayu meraja lela tiap malam .di angkut .mobil truk

  1. Mei 6th, 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: